
Oleh: Dr. KH. Achmad Muhammad, MA
Dalam mahakarya sejarah Al-Bidayah wan Nihayah, Al-Hafiz Ibnu Katsir mengabadikan kisah Umayyah bin Abi As-Shalt seorang penyair terkemuka dari suku Tsaqif yang dikenal sebagai sosok Hanif (pencari kebenaran) pada masa Jahiliyah, namun akhirnya wafat dalam keadaan kafir karena kedengkiannya.
Berikut adalah gambaran pertemuan dan dinamika hubungan Umayyah bin Abi As-Shalt dengan Rasulullah $\text{SAW}$ sebagaimana dirangkum dalam riwayat-riwayat yang dicatat Ibnu Katsir:
1. Latar Belakang Umayyah bin Abi As-Shalt
Sebelum kenabian, Umayyah adalah sosok yang membaca kitab-kitab terdahulu (Taurat dan Injil), mengharamkan khamr (minuman keras), menjauhi penyembahan berhala, serta mempropagandakan ajaran tauhid melalui syair-syairnya.
Ibnu Katsir mencatat bahwa Umayyah sangat mendambakan dirinya diutus sebagai nabi terakhir yang ditunggu-tunggu. Namun, ketika Allah $\text{SWT}$ mengutus Muhammad $\text{SAW}$ dari kalangan Quraisy, rasa dengki dan kesombongan kelompok (ashabiyah) menghalanginya untuk beriman.
2. Pertemuan di Makkah (Sebelum Hijrah)
Dalam Al-Bidayah wan Nihayah, diriwayatkan bahwa Umayyah bin Abi As-Shalt pernah bertemu langsung dengan Rasulullah $\text{SAW}$ di Makkah sebelum Nabi melakukan hijrah ke Madinah.
- Dialog Kebenaran: Umayyah mendatangi Nabi $\text{SAW}$ dan mendengarkan ayat-ayat Al-Qur'an yang dibacakan oleh Beliau. Umayyah terpesona oleh keindahan dan kebenaran Al-Qur'an.
- Pengakuan Hati Nurani: Setelah mendengar lantunan Al-Qur'an, Umayyah mengakui kebenaran kenabian Muhammad kepada kaumnya. Ia berkata bahwa apa yang dibawa Muhammad adalah kebenaran yang nyata.
- Pengkhianatan oleh Kesombongan: Kendati hatinya mengakui, ketika diajak untuk bersaksi dan beriman, Umayyah menolak seraya berkata:"Aku malu pada wanita-wanita Tsaqif. Aku telah memberitahu mereka bahwa akulah nabi yang ditunggu itu, lalu bagaimana mungkin aku menjadi pengikut seorang pemuda dari Bani Abdi Manaf?"
3. Kekalahan Kaum Musyrikin di Badr dan Sikap Umayyah
Ibnu Katsir juga menyebutkan momen penting ketika Umayyah berniat mendatangi Rasulullah $\text{SAW}$ di Madinah untuk masuk Islam. Namun, di tengah perjalanan, ia mendengar kabar tentang Perang Badr.
- Peristiwa Badr: Umayyah mengetahui bahwa banyak kerabat dan tokoh Quraisy (termasuk sepupu-sepupunya) tewas di Badr dan dimasukkan ke dalam sumur Qalib Badr.
- Kekecewaan dan Ratapan: Hal ini membakar kemarahannya. Ia meratapi kematian para tokoh musyrikin Badr dengan syair-syair duka (martsiyah) dan akhirnya membatalkan niatnya untuk memeluk Islam hingga ia meninggal dunia.
4. Penilaian Rasulullah SAW terhadap Umayyah
Meskipun Umayyah mati dalam keadaan musyrik, Rasulullah $\text{SAW}$ mengakui kebenaran yang tertuang dalam karya-karya puisi tauhidnya.
Dalam sebuah riwayat sahih dari Amr bin Asy-Syarid (yang juga dikutip oleh Ibnu Katsir), ia bercerita bahwa ia pernah membonceng Rasulullah $\text{SAW}$ dan melantunkan syair-syair karya Umayyah bin Abi As-Shalt. Setiap kali selesai satu bait, Nabi $\text{SAW}$ bersabda, "Lanjutkan!" hingga genap 100 bait.
Rasulullah $\text{SAW}$ kemudian bersabda mengenai Umayyah:
« ﺁﻣَﻦَ ﺷِﻌْﺮُﻩُ ﻭَﻛَﻔَﺮَ ﻗَﻠْﺒُﻪُ »
"Syairnya telah beriman (mengandung kebenaran), namun hatinya tetap kafir."
Kesimpulan Hikmah
Melalui kisah Umayyah bin Abi As-Shalt dalam Al-Bidayah wan Nihayah, Ibnu Katsir menegaskan sebuah pelajaran besar: ilmu dan pengetahuan tentang kebenaran tidak berguna jika terhalang oleh rasa hasad (dengki) dan kesombongan. Umayyah mengetahui ciri-ciri kenabian, namun kesombongan kelompok membuatnya kehilangan hidayah hingga akhir hayatnya.