info@mujatim.or.id
Kabupaten
cropped-favicon-1

Majelis Ulama Indonesia Sidoarjo

Home » Uncategorized  »  Bisnis Nabi Muhammad Versi Al-Wafa
Bisnis Nabi Muhammad Versi Al-Wafa
Bisnis Nabi Muhammad Versi Al-Wafa

Oleh : DR. KH. Achmad Muhammad, MA

Dalam karya monumental Al-Wafā bi Aḥwāl al-Muṣṭafā karya Imam Ibn al-Jauzi (rahimahullah), aktivitas perniagaan Nabi Muhammad ﷺ sebelum diangkat menjadi nabi dirincikan untuk menggambarkan sifat al-Amīn (terpercaya), kejujuran, serta keagungan akhlak beliau yang mendasari kesuksesannya.

Ibn al-Jauzi menyoroti perjalanan perniagaan Rasulullah ﷺ dalam dua tahapan utama:

1. Perjalanan ke Syam Bersama Abu Thalib (Usia 12 Tahun)

Dalam riwayat Al-Wafa, perjalanan perniagaan pertama terjadi ketika Muhammad ﷺ berusia sekitar 12 tahun. Beliau diajak oleh paman beliau, Abu Thalib, dalam rombongan dagang menuju Syam (Suriah).

  • Peristiwa di Busra: Rombongan beristirahat di dekat biara seorang rahib Kristen bernama Bahira.
  • Tanda-tanda Kenabian: Bahira melihat gumpalan awan yang selalu menaungi Muhammad muda sepanjang perjalanan dan pohon-pohon yang menunduk memberi naungan saat beliau duduk.
  • Peringatan Rahib: Bahira menemui Abu Thalib dan memegang tangan Muhammad ﷺ seraya berkata: "Ini adalah pemimpin alam semesta. Utusan Tuhan akan diutus sebagai rahmat bagi semesta alam." Bahira menyuruh Abu Thalib untuk segera membawa Muhammad kembali ke Mekkah karena mengkhawatirkan ancaman dari kaum Yahudi jika mereka mengenali tanda-tanda tersebut.

2. Mengelola Perniagaan Khadijah binti Khuwailid (Usia 25 Tahun)

Tahap perniagaan paling monumental dalam Al-Wafa terjadi ketika Muhammad ﷺ menginjak usia dewasa. Khadijah binti Khuwailid, seorang wanita bangsawan dan pengusaha kaya dari kaum Quraisy, mendengar reputasi kejujuran (al-sidq) dan amanah (al-amānāh) yang dimiliki Muhammad ﷺ.

  • Penawaran Kerja Sama: Khadijah menawarkan modal usaha yang lebih besar dari yang biasa ia berikan kepada pedagang lain, serta mengutus pembantunya, Maysarah, untuk mendampingi dan melayani Muhammad ﷺ sepanjang perjalanan dagang ke pasar Busra di Syam.
  • Prinsip Berdagang: Ibn al-Jauzi menekankan bahwa dalam perniagaan tersebut, Muhammad ﷺ sama sekali tidak pernah menggunakan kebohongan, sumpah palsu, atau menutupi cacat barang demi mencari keuntungan. Beliau menetapkan harga yang adil dan terbuka kepada para pembeli.
  • Kesaksian Maysarah: Selama di perjalanan, Maysarah menyaksikan berbagai keajaiban dan kemuliaan akhlak Muhammad ﷺ:
    • Awan senantiasa menaungi beliau dari teriknya matahari Syam.
    • Seorang rahib bernama Nastura mengenali Muhammad ﷺ ketika beliau berteduh di bawah sebuah pohon dan berkata kepada Maysarah: "Tidak ada yang berteduh di bawah pohon ini setelah Isa AS melainkan seorang Nabi."
    • Muhammad ﷺ menunjukkan tutur kata yang santun, keadilan dalam bernegosiasi, dan komitmen tinggi terhadap kesepakatan dagang.
  • Keuntungan Berlipat ganda: Perniagaan tersebut meraih keuntungan finansial berlipat ganda yang belum pernah diraih Khadijah sebelumnya.

Implikasi dan Pernikahan

Sekembalinya ke Mekkah, Maysarah menceritakan seluruh kejujuran perniagaan dan kejadian luar biasa yang disaksikannya kepada Khadijah. Karakter luhur, keteladanan, dan integritas yang diperlihatkan Muhammad ﷺ dalam berdagang inilah yang menggerakkan hati Khadijah untuk melamar beliau, yang kemudian berlanjut pada pernikahan suci keduanya.

Melalui kitab Al-Wafa, Ibn al-Jauzi menegaskan bahwa masa perniagaan sebelum kenabian ini adalah bentuk penataan (tadbīr) Allah SWT untuk menempa kapasitas kepemimpinan, kemandirian finansial, dan pengakuan publik atas integritas moral Nabi Muhammad ﷺ sebelum memikul risalah kenabian.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *