info@mujatim.or.id
Kabupaten
cropped-favicon-1

Majelis Ulama Indonesia Sidoarjo

Home » Uncategorized  »  Kisah Gembala Kambing Nabi Al-Wafa
Kisah Gembala Kambing Nabi Al-Wafa
Kisah Gembala Kambing Nabi Al-Wafa

Oleh : DR. KH. Achmad Muhammad, MA

Dalam karya monumental karya Al-Hafizh Ibnul Jawzi (510–597 H), yaitu Al-Wafā bi Aḥwāl al-Muṣṭafā, kisah Nabi Muhammad ﷺ menggembala kambing dicatat sebagai bagian penting dari fase kehidupan awal beliau yang membentuk kepribadian dan kedudukannya sebagai seorang nabi.

Berikut adalah penyampaian kisah tersebut secara lengkap sebagaimana dirangkum dalam tradisi riwayat Al-Wafā:

Masa Kecil dan Remaja yang Mandiri

Dalam kitab Al-Wafā, Ibnul Jawzi menuturkan bahwa Rasulullah ﷺ tumbuh dalam keadaan yatim dan hidup bersahaja. Ketika tinggal bersama pamannya, Abu Thalib, beliau tidak ingin menjadi beban ekonomi bagi keluarga pamannya yang memiliki banyak anak.

Atas inisiatif dan kesadarannya sendiri, Muhammad muda mulai bekerja menggembalakan kambing. Beliau menggembala bukan hanya kambing milik keluarganya sendiri (seperti kambing ibu asuhnya, Halimah As-Sa'diyyah, pada masa kanak-kanak), tetapi juga kambing-kambing milik penduduk Mekkah.

Imbalan Beberapa Qirath

Ibnul Jawzi membawakan riwayat shahih mengenai pengakuan Nabi ﷺ di kemudian hari saat beliau telah menjadi Rasulullah:

“Tidaklah Allah mengutus seorang nabi pun melainkan ia pernah menggembalakan kambing.”

Para sahabat bertanya: “Apakah engkau juga demikian, wahai Rasulullah?”

Beliau menjawab: “Ya, aku dulu menggembalakannya untuk penduduk Mekkah dengan imbalan beberapa qirāṭh (pecahan mata uang/upah kecil).”

Upah tersebut beliau gunakan untuk membantu meringankan nafkah keluarga pamannya, menunjukkan sifat iffah (menjaga kehormatan diri) dan kemandirian sejak dini.

Penjagaan Allah dari Perbuatan Jahiliyah

Dalam Al-Wafā, terdapat riwayat khusus yang menghubungkan pekerjaan menggembala kambing dengan penjagaan Allah ('Iṣmah) terhadap beliau dari maksiat atau hiburan malam kaum Quraisy.

Dikisahkan bahwa pada suatu malam ketika sedang menggembala di pegunungan Mekkah bersama seorang pemuda Quraisy lainnya, Muhammad muda berkata kepada temannya:

"Maukah engkau menjaga kambing-kambingku? Aku ingin masuk ke Kota Mekkah untuk melihat hiburan malam sebagaimana anak-anak muda lainnya."

Temannya setuju. Namun, ketika Muhammad sampai di batas Kota Mekkah dan mendengar alunan musik dari sebuah acara pernikahan, Allah membuat beliau tertidur pulas. Beliau baru terbangun sewaktu tersengat panasnya matahari di pagi hari. Beliau mencoba melakukan hal yang sama pada malam berikutnya, tetapi Allah kembali menidurkannya hingga pagi. Setelah dua kejadian itu, beliau tidak pernah lagi berniat menghadiri hiburan malam Jahiliyah.

Hikmah Menggembala Kambing dalam Al-Wafā

Ibnul Jawzi menguraikan beberapa hikmah mendalam mengapa para Nabi dipersiapkan melalui pengembalaan kambing:

  • Melatih Kesabaran dan Ketelitian: Berbeda dengan unta atau kuda yang cenderung agresif atau membanggakan, kambing adalah hewan yang lemah, mudah tersesat, dan membutuhkan perhatian telaten. Mengatur kawanan kambing menjadi miniatur latihan dalam memimpin dan mengayomi umat manusia yang bermacam-macam karakternya.
  • Menumbuhkan Sifat Ketenangan (As-Sakīnah): Nabi ﷺ menjelaskan bahwa pemilik/penggembala kambing dianugerahi ketenangan dan kelembutan hati.
  • Kesempatan Tafakkur: Menggembala di tempat terbuka seperti lembah dan bukit Mekkah memberi waktu bagi beliau untuk merenungi keagungan ciptaan Allah (tarakkub) jauh dari kebisingan penyembahan berhala masyarakat Mekkah saat itu.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *